Sabtu, 06 November 2010

KERINDUAN

Sebenarnya banyak hal yang ingin kusampaikan kepada kalian kemarin tapi rasanya tak cukup kata untuk membuat kalian yakin bahwa jalan yang aku tempuh saat ini demi kebaikan kita semua, yang kadang aku sendiri tidak menyangkal bahwa aku juga merindukan kalian sama seperti kalian merindukan aku.

Mungkin kalian menganggap bahwa tulisan ini sekedar justifikasi dari seorang yang lari dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin tapi aku menganggap bahwa tulisan ini sekedar memberi tahu kalian bahwa sesuatu akan nampak berharga apabila kita sudah kehilangan, sehingga aku memutuskan untuk mengembara sejenak agar segala kepenatan yang mengisi setiap rongga di kepalaku dapat berkurang.

 Saudaraku realitas politik pragmatis yang membuat kita kemarin seakan kehilangan idetitas diri sebagai saudara hingga memunculkan konflik pribadi yang seharusnya tak pernah ada kalian tahu semua segala daya telah aku upayakan untuk meredam hingga hakku sendiri telah aku relakan hingga aku terkapar dalam jurang kegagalan yang sampai saat ini aku belum bisa bangkit kembali tapi aku tak pernah mengeluh karena aku berfikir semua itu demi kejayaan kita.

 Baiklah saudaraku aku menceritakan apa yang aku dapat dari pengembaraanku di Batam selama satu bulan aku belajar banyak tentang sebuah kebenaran hakiki yang sebelumnya belum selesai aku pelajari, sehingga aku merasa menjadi kecil dibanding apa yang telah Allah berikan kepadaku hingga hari ini disana juga aku bertemu dengan teman lamaku yang membuat aku tahu bahwa persaudaraan tak pernah habis di makan jarak dan waktu.

 Setelah dari Batam aku kembali ke Medan di kota inilah ayahku berada dan aku mendapat kembali kasih sayang yang bertahun lamanya tidak aku temukan dimana ayahku selalu menyelimuti aku ketika aku tidur lebih awal dan belum sempat mengenakan selimut kalian tahu rasanya aku telah mendapatkan sebagian kecil dari surgaku hinga aku habiskan waktu berbulan untuk menikmati surgaku.

Hingga suatu saat aku ingin kembali ke Surabaya dan aku bergegas meninggalkan ayahku untuk menemui beberapa temanku dan menyelesaikan studyku Allhamdullah mungkin February aku bisa diwisuda di sana aku belajar kembali tentang idealisme yang mungkin telah luntur dalam hatiku disana aku juga mendapati sisa kejayaanku yang hilang dimakan waktu sehingga aku semakin sadar bahwa tak ada yang abadi di dunia ini kecuali sang pencipta dunia itu sendiri.

Hingga minggu kemarin di Banda Aceh kita saling berpelukan setelah hampir satu tahun kita berpisah walau mungkin waktu dan tempat tidak pas tapi bagiku semua itu cukup bagi kita sekedar mengurangi sesak kerinduan dalam hati walau ada beberapa diantara kalian yang belum bisa kita bertemu untuk sekedar minum kopi bareng tapi yakinlah bila saatnya nanti kita akan ngopi bareng kembali.

Untuk bang Syair yang selalu menanyakan kapan aku pulang aku cuma bisa berjanji awal Desember aku akan berkunjung kerumahmu dan dari rumahmu kita selesaikan satu-persatu masalah yang kita hadapi hal ini bukan aku tidak rindu kalian tapi aku harus ke Jogyakarta dahulu untuk menyelesaikan pengembaraanku hingga aku merasa yakin bahwa sudah saatnya aku pulang

Untuk Ibu yang selalu mengasihiku tahukah ibu apa yang membuat aku tak bisa tidur pada malam hari bukan masalah tempat tidur tapi masalah dimana aku teringat ibu selalu menyuapkan makanan kemulut anakmu saat aku makan malam, tunggulah aku ibu akan kubasuh kakimu yang lelah menanti aku,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,


Untuk kalian kubawa rindu ini sampai kita ketemu di Aceh Singkil Kembali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar